Dear Friend

Dear Friend



Seorang remaja berlari menuju gerbang sekolah yang sudah ditutup 30 menit yang lalu. Ebenhaezar Raturandang , remaja umur 16 tahun. Remaja yang lugu dan manis keturunan China-Makassar. Ia kebingungan dan panik. Gara-gara begadang  nonton bola Real Madrid lawan Barcelona semalam, ia jadi terlambat masuk sekolah. Maklum, Ezar adalah fans berat Kaka pemain gelandang Real Madrid.
Di tengah kebingungannya ia merogoh hape di saku dan tampak menelefon seseorang.
“Kodok, gimana nih nasib gue?”
“Gimana apanya?” Suara cewek bernada lembut menjawab telefonnya.
“Gue di depan gerbang sekolah nih, Gue nggak bisa masuk, please bantuin gue..”
“Oh iya, bentar ya, Zar?” Dengan sigap menanggapi permintaan Ebenhaezar.
Beberapa saat kemudian pak satpam membuka gerbang sekolah. Ezar merasa lega selega-leganya, karena ia akhirnya bisa masuk. Kalau hari ini sampai tidak masuk sekolah, ia bakal tidak ikut ujian praktik bahasa Inggris yang rencananya diujikan siang hari nanti.
Nampak seorang remaja perempuan berkulit putih berdiri di belakang pak satpam menunggu Ezar, Yufia Nirina namanya. Sahabat karib Ezar dari SD dan saking akrabnya Ezar memanggil Fia dengan sebutan kodok. Yufia dipanggil kodok karena ia suka sekali dengan barang-barang yang bergambar kodok ataupun yang berhubungan dengan kodok. Kini, mereka berdua bersekolah di sekolah yang sama disalah satu SMA Katolik di Makale, Tana Toraja. Mereka adalah penganut Katholik yang taat.
Peraturan sekolah disana ketat, tapi entah kenapa Fia bisa merayu pak satpam agar membukakan gerbang untuknya. Ah, atau mungkin Ezar sedang very very lucky hari ini.
“Makasih ya pak?”
“Sama-sama, lain kali jangan telat ya” Pak satpam membalas.
“Iya pak, tapi kalo nggak lupa ya…” Tertawa kecil sambil memamerkan gigi-gigi gingsunya dan berlari kecil masuk ke pekarangan sekolah.
Fia memandangi tingkah polah sahabatnya yang lucu dengan senyum. Fia adalah malaikat penyelamatan bagi Ezar. Karena dia sering membantu kesulitan Ezar.

“Dok, kamu baik banget deh… Makasih ya?”
“Iya, biasa aja.”
“Kamu kenapa telat? Pasti begadang nonton bola lagi.. Dasar kamu tuh susah banget dibilangin..”
“Hahaha…” Ezar tertawa.
“Kok kamu tau sih dok?”
“Apa sih yang gue nggak tau dari elu?”
“Hahaha, bisa aja kamu dok..” menepuk bahu Fia.
Di persimpangan lorong sekolah, Mereka berpisah, Fia berjalan menuju ruang kelas, sedangkan Ezar menuju kantin menunggu pergantian pelajaran.
Setelah jam pergantian pelajaran, Ezar kembali belajar di kelas.
Sampai jam menunjukkan pukul 14.30, Teng tonggg… Teng tonggg… Teng Tonggg… bunyi lonceng menggema tanda kegiatan belajar mengajar telah selesai. Dan seperti biasanya, Ezar dan Fia pulang bersama. Walaupun jalan kaki, mereka sangat menikmati perjalanan pulang mereka, layaknya sahabat dengan bergembira ria.
Selama perjalanan menuju rumah mereka masing-masing yang kebetulan satu komplek, Fia lebih memilih senyum-senyum saja, ketika Ezar bercerita tentang kehebatan Kaka dalam pertandingan bola tadi malam. Lebih-lebih ketika Kaka berhasil mencetak 2 gol, sehingga timnya menang atas tim lawan.
Ezar menepuk pundak Fia, “Kodok? lu kok diem mulu sih?”
“Enggak kok, Zar.” Timpal Fia.
“Kalo enggak diem, gitu namanya apa dong? Bersemedi? Bertapa? Puasa bicara?” balas Ezar.
“yeeee, ngeledek mulu lu” balas Fia.
Yufia sampai disebuah rumah dengan tembok pagar yang besar. Ya tepat, rumahnya. Ia mengucapkan salam perpisahan kepada Ezar seperti biasa “bye bye”.
Ezar berjalan menuju rumahnya yang tak jauh dari rumah Fia. Berjalan menunduk sambil mengumpulkan inspirasi untuk ide-ide barunya hari ini.
Ezar adalah seorang penulis. Artikel-artikelnya sudah banyak diterbitkan di majalah remaja di Makassar. Namanya cukup terkenal dengan karya-karyanya di mading sekolah, ia kreatif. Ezar bukan anak yang cerdas di sekolah, satu-satunya mata pelajaran yang ia kuasai adalah TIK, karena kebiasaannya berkutat dengan layar monitor sejak kecil. Tetapi yang namanya manusia selalu punya kekurangan. Salah satu kekurangan yang paling mencolok dari Ezar adalah hobby nya yang sering terlambat ke sekolah.
Berbeda dengan Yufia, ia adalah seorang remaja yang cerdas, rajin dan berbakat dibidang akademik dan non akademik. Prestasinya yang gemilang mebuat namanya menjadi urutan teratas setelah Ezar. Namun Yufia adalah remaja yang dingin, satu-satunya sahabat yang ia punya hanya Ebenhaezar.
Setiap harinya, Yufia ke sekolah diantar oleh supir pribadinya. Sedangkan Ezar hanya berjalan kaki. Ezar bukannya tidak mampu membeli kendaraan untuk digunakan ke sekolah. Ia berpikir bahwa tidak ada salahnya berolahraga dengan berjalan kaki setiap hari. Lagipula, jarak rumah dari sekolahnya tidak terlalu jauh. Setiap pulang sekolah, ia selalu berjalan kaki pulang bersama Fia. Fia memang sengaja menyuruh supirnya untuk tidak menjemputnya saat pulang sekolah.
Esok paginya, hari senin. Ezar bergegas pagi-pagi menuju rumah Fia dengan berjalan kaki. Hari ini ia berangkat bersama Fia, menikmati atmosfer pagi bersama dengan sahabat karibnya.
Sambil menunggu Fia keluar dari rumah, Ezar mengobrol dengan satpam penjaga rumah. Satpam rumah Fia sudah bersahabat dengan Ezar, setiap pagi mereka selalu menyapa satu sama lain, bahkan saling bertukar nomer telepon.
“Bye-bye pak Rudi, semangat kerjanya” sambil memamerkan senyum khasnya.
“jagain non Fia yaa” teriak pak Rudi membalas candaan Ezar yang mulai menjauh dari rumah Yufia.
Setiap hari di kelas, Fia selalu menunggu dijemput Ezar untuk ke kantin. Fia tidak terlalu akrab dengan siswa-siswi di sekolah, ia menutup dirinya. Ia hanya akrab dan nyaman dengan satu orang, Ebenhaezar.

2 Tahun Kemudian..
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, Ezar dan Yufia sudah tamat SMA. Kenangan-kenangan dimasa-masa SMA menjadi memori yang tidak akan mereka lupakan seumur hidup mereka.
Kini mereka sibuk mempersiapkan diri masuk universitas impian mereka. Yufia masih bimbang dengan pilihannya, memilih jurusan fisika yang menjadi minatnya sejak kecil atau memilih jurusan teknik elektro yang direkomendasikan oleh orang tuanya.
Ebenhaezar sudah mantap dengan pilihannya, ia memilih berkuliah di luar negeri. Ia mendapatkan beasiswa atas prestasi dan bakatnya dibidang sastra. Ia tidak melanjutkan memperdalam ilmu nya dibidang teknologi informatika, ia lebih memilih menjadi seorang penulis yang ia anggap bisa mencerahkan kehidupannya nanti. 
Yufia dan Ezar sudah memilih jalan mereka masing-masing. Mereka berkomitmen untuk terus bersahabat hingga mereka tua nanti, meskipun jalan mereka sudah berbeda dan jarak yang sudah tidak  memungkinkan untuk mereka berkomunikasi terus menerus.
Hari-hari berlalu, mereka sudah jarang berkomunikasi. Mungkin karena kesibukan kuliah masing-masing. Tahun awal kuliah mereka masih sering bercerita lewat email, saling berkirim foto, pengalaman, bahkan saling bercerita tentang karakter-karakter dosen mereka di kampus.
Beberapa bulan ini Yufia tak pernah membalas email dari Ezar, sudah beberapakali Ezar menghubungi Fia lewat video call tetapi tidak bisa. Mungkin Fia sudah mengganti nomer ponselnya.
Ezar akan mengunjungi Yufia setelah lulus dari Universitas British Coloumbia. Ia berencana membuatkan sebuah buku untuk sahabat kecilnya itu.
4 Tahun Kemudian...
Ezar telah menyandang gelar akademik Sarjana Sastra, ia berniat menceritakan pengalaman berharganya itu kepada sahabat kecilnya yang ia rindukan beberapa tahun belakangan. Ia dan Fia hilang kontak bertahun-tahun dan hari ini Ezar berniat mengembalikan semuanya seperti dulu.
Ezar kembali ke negara kelahirannya, Indonesia. Ia sangat bersemangat ingin bertemu dengan Fia.
Keesokan harinya setelah ia sampai dari perjalanannya yang lumayan menguras tenaga, ia mengunjungi rumah Fia. Ia berjalan menuju rumah Fia seperti saat SMA dulu, berjalan menunduk sambil mencari inspirasi sesekali mengirup udara yang sejuk ditengah pepohonan yang rindang sepanjang jalan menuju rumah sahabatnya itu.
Namun ada yang berbeda dari biasanya, ia tidak melihat seorangpun di rumah Fia. Rumah besar dengan tembok pagar yang kokoh itu tampak usang. Satpam yang dulu sering menjaga rumah Fia tidak terlihat sama sekali. Ezar berpikir bahwa mungkin Fia tidak ada di rumah. Ezar berpikir dua kali, kalo memang Fia tidak ada di rumah setidaknya satpam yang menjaga rumahnya masih ada, dan tetap stay di depan pagar.
Ezar memanggil-manggil nama sahabatnya itu dengan sebutan nama “kodok”, ia berteriak tapi tidak seorang pun yang muncul dari dalam rumah. Ia pulang dengan rasa kecewa, rasa rindunya dengan sahabat kecilnya itu tertahan sejenak, ada yang mengganjal dihatinya.
Ezar nampak murung tak beranjak dari kasur empuknya. Sudah 2 hari ini Ezar tidak keluar rumah. Penyebabnya adalah peristiwa 2 hari yang lalu. Hatinya digeluti perasaan cemas, sudah bertahun-tahun ia tidak melihat sahabatnya dan kini saat ia pulang ke Toraja, ia tak melihatnya sama sekali.
Ia mebuka layar monitor di kamarnya mencurahkan semua perasaan sedihnya ke blog pribadinya. Saat membuka blognya, ia menemukan semua foto-fotonya bersama Yufia dari SD sampai SMA. Ia tertawa geli sendiri melihat tingkah lucu sahabatnya itu saat berfoto.
“Yufia Nirina, elu kemana?” “kodok cantik” gumamnya.
Sudah seminggu kepulangan Ezar dari Canada, namun ia tak mendapatkan sedikitpun kabar dari Yufia.
Ezar tiba-tiba mengingat sesuatu. Ia masih menyimpan nomer ponsel satpam rumah Fia. Mungkin dengan menelpon satpam itu ia bisa mendapatkan informasi mengenai Yufia.
“halo, selamat malam?”
“iya, selamat malam. Siapa ya?” suara berat terdengar dari seberang telepon. Nomer ponsel satpam rumat Yufia ternyata masih aktif.
“halo?”
“eeehhh iya iya, maaf, pak. Apa ini dengan pak Rudi?”
“iya, benar. Maaf ini siapa?”
“saya Ezar, pak. Teman Yufia yang dulu sering bareng-bareng ke sekolah”
“ooohh, Ezar. Kenapa nak?”
“begini pak, seminggu yang lalu saya baru pulang dari Canada menyelesaikan study saya. Saya jalan-jalan ke rumah Fia, ingin bertemu Fia. Sudah lama sekali saya tidak bertemu dengan dia. Tapi, rumahnya kok sepi sekali ya, pak, saya juga  tidak melihat bapak disana. Ada apa sebenarnya pak?”
“kalau berbicara ditelfon saya rasa tidak afdol, nak. Besok kita ketemu di Makale, kita cerita-cerita tentang Fia yaa “
“ooh, terimakasih pak”
Telefon singkat itu membuat hati Ezar sedikit lega, setidaknya ia mempunyai sedikit harapan untuk bertemu sahabatnya.
Keesokan harinya Ezar tampak bersemangat ingin bertemu satpam rumah Yufia.
Pak Rudi duduk dengan seorang perempuan paruh baya yang tak jauh beda dengan umurnya. Ia duduk di sudut ruangan sambil menunggu seseorang dari 15 menit yang lalu.
“pak Rudi kan? Maaf pak terlambat, saya agak lupa dengan tempat-tempat di Makale ini”
“wah nak Ezar berbeda sekali dari yang dulu, semakin tampan ya” gurau pak Rudi memuji Ezar.
“haha, terimakasih pak, bapak juga dari dulu tidak ada perubahan” timpal Ezar.
“begini, apa nak Ezar sudah tahu bahwa Yufia dan Keluarganya sudah meninggal setahun yang lalu?”
Ezar shock dengan apa yang diutarakan mantan satpam rumah sahabatnya. Ezar terlalu bodoh. Bahkan kematian sahabat kecilnya pun ia tidak mengetahuinya. Air mata menetes dari pelupuk mata Ezar, baru kali ini ia meneteskan air mata untuk seorang wanita, ia benar-benar kehilangan Yufia.
“pak Rudi kenapa nggak nelfon saya, Yufia itu hidup saya pak, inspirasi saya” Ezar berbicara sesegukan di depan pak Rudi dan istrinya.
“nak Ezar, dulu non Fia pernah ngasih CD ke istri saya waktu masih jadi pembantu di rumah non Fia. CD ini buat nak Ezar. Kata non Fia, CD ini baru bisa dikasih ke nak Ezar kalau nak Ezar sudah kembali dari luar negeri.”
Ezar menangis sesegukan sambil menopang kepalanya di meja cafe. Suasanya cafe itu sunyi, hanya ada Ezar, pak Rudi dan Istrinya serta beberapa orang lainnya. Pak Rudi terus berbicara mengenai Yufia.
“nak Fia dengan orang tuanya kecelakaan di perjalanan dari Toraja ke Makassar. Ia mau berlibur dengan bapak dan ibu tapi takdirnya berkata lain. Mobil yang kendarai pak Abdul sopirnya Fia waktu SMA menabrak mobil bus yang berlawanan arah. Lajunya sangat kencang nak, mobil yang dikendarai non Fia terguling 10 meter. Non Fia dengan orang tuanya mati ditempat, nak.”
Ezar tidak mampu berkata-kata lagi, harapan yang sudah ia bangun bertahun-tahun yang lalu pupus sudah. Yufia yang menjadi sahabatnya sejak kecil sudah pergi meningglkannya tanpa mengucapkan kata perpisahan sedikitpun.
Setelah mengambil CD yang dibawa pak Rudi, Ezar meminta alamat tempat pemakaman sahabat kecilnya itu. Ia berlari keluar cafe sambil menyeka air matanya.
Sebulan kemudian...
Sinar matahari pagi menembus jendela kamar seorang sarjana muda. Matanya perlahan terbuka dengan sedikit senyum untuk mentari pagi itu. Ia teringat dengan CD yang diberikan pak Rudi padanya sebulan yang lalu. Ia masih terlalu sedih untuk melihat isi CD itu, namun hari ini ia mempunyai semangat untuk itu.
Dimasukkannya piringan CD itu ke dalam DVD player di ruangan tengah rumah Ezar. Tak ada musik ataupun video. Yang ada hanya foto-foto Fia dan dirinya dengan tampilan background kodok hijau dan ada beberapa tulisan-tulisan dalam file yang kemudian dibuka oleh Ezar. Isi file itu adalah pengalaman hidup Fia semasa bersahabat dengan Ezar, file itu juga berisi ungkapan perasaan Fia ditinggalkan oleh Ezar bertahun-tahun.
Ezar kembali menitikkan air mata, namun air mata kali ini bukan air mata kesedihan. Ezar terharu mempunyai seorang sahabat seperti Yufia.
Ezar memutuskan mengunjungi makam sahabatnya seorang diri. Perjalanan ia tempuh sejam menggunakan mobil Jazz kasayangannya yang tak pernah ia pakai sejak SMA. Dan saat ini mobil itu dipakai ke pemakaman sahabat kecilnya.
Di tengah pusara Yufia, ia memanjatkan doa. Air matanya terus mengalir dipelupuk matanya. Berharap sahabat kecilnya itu mendapatkan tempat di surga.
Sepulangnya dari pemakaman, ia membuka layar monitor dan mengetikkan sesuatu di blog nya. Ia berencana membuat novel tentang kisah hidupnya bersama Fia. Kini, remaja cantik yang pernah ada di dekat Ezar, mengisi hari-harinya dengan canda tawa, ledekan usil dan sumber ide-ide cermerlangnya untuk menulis telah pergi. Lamunan-lamunan Ezar tidak dapat mengembalikan Yufia.
***


*sekian dulu postinganku, semoga terhibur dengan hasil imajinasi gue, hehhe.*