Akhirnya Bebas Juga (welcome holiday)

Minggu lalu, saya baru aja mengalami ajang hidup dan mati para pelajar dalam meperjuangkan nilainya. Ya, sebut saja Ujian Akhir Semester, atau yang biasa disingkat dengan UAS.  Cara saya menghadapinya sih biasa aja. Seperti pelajar kebanyakan yang belajar setiap malamnya. Saya pun begitu. Tadinya, saya ingin melakukan ritual dulu. Ritual lempar koin. Kalo koinnya menunjukkan angka, saya akan main twitter. Kalo koinnya menunjukkan lambang Garuda, saya akan langsung tidur. Kalo koinnya berdiri, saya akan belajar. Sampai pagi. 

Setelah melakukan pertimbangan, ritual itu hanya akan merusak nilai saya. untunglah tiap hari cuma ada 2 mapel ujian, masih mending ketimbang kelas 1.

Senin

Hari ini ada 2 ulangan. PKN dan Teori Olahraga. Yah, saking jagonya, saya mengerjakannya sambil tutup mata. Pelajaran-pelajaran ini sih, cuman butuh permainan logika. Seperti salah satu soal Teori Olahraga yang menanyakan, "Siapa penemu olahraga volly?"

Lalu saya jawab, "Ada di buku cetak." Beneran.

Selasa

Ulangan Kimia dan Bahasa Indonesia. Siapa takut? Jujur, takut juga sih. Apalagi Kimia. Selanjutnya ada Bahasa Indonesia. Sebagai penulis, rasanya aneh kalo saya dapat jelek di pelajaran ini. Saya udah belajar dari catatan saya yang seadanya. Saat ulangan, saya pun bisa mengerjakannya dengan cukup baik. Tinggal serahkan semuanya kepada yang di ruang guru. Guru Bahasa Indonesia saya. 

Ulangan dilanjutkan hari Kamis, karena Rabu ada libur nasional.

Kamis

Pertama, ulangan Sejarah saya lewati dengan percaya diri. Tapi nggak tahu deh, ulangannya percaya sama saya atau nggak. Lanjut ke Fisika. Arwah Einstein mungkin merasuki saya, saya memandang soal-soal itu dengan senyum iblis. Dan benar saja, saya mengerjakannya dengan mulus. Mungkin karena ini Mapel favorit saya.

Jumat

Ulangan Bahasa Jerman dan Matematika. Saya belum masuk ruang ujian karena terjebak hujan. Pukul 06.40, saya memutuskan untuk lari menerobos hujan, daripada nggak ikut ujian. 
"Arrggggh Bahasa Jerman, mau jawab apa gue..."

**

Dan... pengawas ujiannya datang nggak lama kemudian. Saya berkali-kali bilang dalam hati, "Ini hanya ilusi... Pasti berlangsung sebentar aja." Tapi pikiran saya itu jadi kacau saat mendengar suara, "kelas XI Bhs. Jerman ada 15 nomer essai ya.. gampang kok" Argh, ini pasti ilusi tingkat tinggi. 
Rasanya ingin saya balas, "Iya, soalnya gampang. Tapi jawabnya susah, jendral!" tapi saya urungkan niat itu setelah menimbang-nimbang kertas ulangan saya akan dirobek dan langsung disuruh pulang. Saya mengerjakan soal  dengan semampunya. 

Saya akhirnya bisa menyelesaikan ulangan Bhs.Jerman ini dengan keadaan pasrah. Nggak sampai di sini aja, penderitaan saya berlanjut ke ulangan Matematika. End of the world.

Saya terus memikirkan nilai hasil ulangan Bhs.Jerman. Kalo misalkan hasilnya yang cukup memuaskan di pelajaran yang saya benci ini, akan menjadi sebuah prestasi yang layak untuk saya laminating, bingkai, lalu tempel di kamar guru Bhs.Jerman. 

Sabtu

Ulangan Bahasa Inggris bisa saya lewati dengan cukup memuaskan. Menurut saya, nggak tahu deh kalo menurut gurunya. Dilanjutkan ulangan Agama yang hanya membutuhkan iman untuk menjawabnya. Udah dipastikan, jawaban nggak jauh-jauh dari: mencintai sesama, rajin berdoa, hidup sehati-sejiwa, saling membantu dan menghargai. Sisanya, pertanyaan tentang hak asasi manusia. Kecil. 

Senin

Hari terakhir. Malam sebelumnya, saya sempat belajar Biologi. Tentang jaringan Tumbuhan. Tapi, saya harus mengorbankan tugas presentasi. Iya, setelah ulangan, saya rencananya disuruh maju untuk presentasi tentang Sistem Gerak. Malah belum buat sama sekali. Kalo belajar materi presentasi, nanti ulangan besok gimana? Saat itu, saya baru aja selesai mengedit postingan blog . Lalu, saya pun memilih belajar untuk ulangan besok. Presentasi, minggu depan aja. 

Selesai belajar (nggak semuanya juga), saya pun langsung tidur sambil menaruh buku cetak Biologi di bawah bantal. Mitosnya, supaya materinya semakin terserap di otak. 

**

Hari Senin telah tiba dan diawali oleh ulangan TIK. Okelah, bisa. Setelah selesai, ulangan dilanjutkan lagi oleh pelajaran Biologi. Saya lalu memberitahu dulu bahwa presentasinya belum saya selesaikan, karena harus belajar untuk ulangan hari ini. Untung gurunya pengertian. 

Ulangan dimulai, ulangan selesai. Iya, cepet kan. Soalnya panjang kalo harus saya tulis soal dan jawabannya di sini. Di luar dugaan, nilai saya paling tinggi sekelas. Ini pasti berkat buku cetak Biologi yang saya taruh di bawah bantal semalam. Pasti. 


Bel pulang sekolah berbunyi. Saya langsung pulang seperti biasa. Sampai di rumah nanti saya ingin tidur. Nggak sampai 15 menit, saya udah sampai di rumah. Maklum, jaraknya nggak terlalu jauh. Setelah nyampe depan pintu, saya masuk kedalam, ke kamar saya. Sebelum menghempaskan badan ke kasur, saya bergumam dalam hati, "Akhirnya bebas juga." Yeah!