Be Players Not Dreamers


Guys, kalo kamu tergolong bukan manusia MASKULIN alias manusia kutinggalan informasi (singkatannya maksa banget :v) pasti ngeh dengan berita yang bisa dibilang heboh beberapa waktu lalu. Sebuah prestasi membanggakan yang ditorehkan oleh anak putih abu-abu. Yup, berita tentang mobil yang dirakit oleh anak-anak SMK. Terus ngga Cuma itu, anak-anak putih abu-abu juga sukses bikin pesawat terbang, dan merakit laptop. 

Hmm, sebuah prestasi yang layak diacungi jempol, LIKE THIS!
Sebenarnya cukup banyak prestasi-prestasi anak negeri, mulai dari juara olimpiade, sampai perlombaan iptek dan robot tingkat nasional dan internasional. Tapi kayaknya prestasi itu harus tertahan dengan berita heboh, pemenang audisi, atau ajang pencarian bakat, yang masih menempati prime time di televisi kita. Sepertinya cara pandang tentang sebuah prestasi bagi masyarakat kita, masih seputar yang bersifat glamour, sensatif, dan pastinya heboh. Lihat saja, ketika ada ajang audisi, teman-teman kita pada lomba-lomba pengin mendaftar. Orang tuanya juga bangga banget kalo anaknya lolos audisi. Ditambah keluarga besar, tetangga, handai taulan sampe orang yang ngga kenal sekalipun, ikutan heboh dengan mendukungnya via SMS premium.

Coba bayangkan, tentu  akan berbeda hasilnya, andai kata ketika mulai dari perhatian sampai duit yang dicurahkan buat audisi itu diarahkan ke prestasi-prestasi yang sifatnya ilmiah, kek mobil SMK tadi. Bisa jadi karena kurang dukungan, kurang diperhatikan, bahkan bisa jadi karena kurang duit, mobil SMK yang harusnya bisa jadi kebanggan prestasi anak negeri, tapi uji emisi aja ngga lolos, sehingga harus dikaji ulang, untuk diproduksi dalam jumlah banyak.

Soal pemberitaan di media pun antara berita prestasi anak negeri dengan berita audisi, bisa dibilang ngga berimbang. Yaa, sekaligus ini menjadi bukti kalo media kita lebih berorientasi pada materi (duit). Tentu saja, karena lebih banyak disukai masyarakat, ajang audisi itu lebih banyak mengandung sponsor untuk beriklan di tv. Bahkan kalo perlu, presiden sampe wakil rakyat pun bisa ikut audisi oleh media.

Padahal sadar atau ngga, pemaksaan yang dilakukan oleh media tersebut menggiring generasi kita kepada jurang lost generation. Iya, secara tidak langsung berita dan hiburan tentang audisi tersebut membawa kita kepada budaya konsumtif, yang menghasilkan manusia penikmat, bukan pencipta (bahasa kasarnya sih kurang produktif). Kita ini generasi players, bukan dreamers (action dong menn!). Coba deh perhatiin, siapa-siapa bisa berprestasi dibidang ilmiah, seperti juara olimpiade tingkat nasional maupun internasional? Bisa dihitung jari kan, dibandingkan dengan generasi kita yang lebih doyan jejingkrakan, teriak histeris, fanatik dan pendukung pujaannya di audisi atau pencarian bakat? Remaja disodorin sebuah gambaran kesuksesan yang bisa diraih secara instant!

Kalo gini ceritanya, kebayang dong kayak gimana potret remaja nusantara di masa depan? Kayaknya kekhawatiran akan lost generation bukan Cuma isapan jempol. Tapi isapan telunjuk, jari tengah, jari manis, jari kelingking. Hehe... Jadilah remaja yang kreatif dan produktif selagi muda. See u readers, jangan lupa komentar.
**

.