Daily Life Pelajar Absurd

TERBARU

Kacamata Hati (part 1)



Berhenti disebuah kursi tua di taman sekolah, saat ini masih terlalu pagi untuk masuk di kelas. Hari ini, matahari begitu cerah. Semburat merahnya memancar terang.
Seseorang tengah duduk sendirian di belakangku, memegang sebuah buku filosofi. Matanya sipit tertuju pada tulisan yang ada didalam buku. Dina, begitu ia dipanggil. Matanya yang sipit memakai alat bantu pengelihatan.
Setiap pagi aku melihatnya disini, dengan buku yang sama di jam yang sama. Aku sering memperhatikan gerak-geriknya. Orangnya tertutup, aku jarang melihatnya bergaul dengan siswa yang lain. Setahuku, dia hanya mempunyai seorang teman, yang aku juga tidak tahu namanya.
Aku beranjak dari kursi menuju kelas, sembari berlari-lari kecil karena takut didahaului guru. Kelasku cukup jauh dibelakang. Entah kenapa perasaanku hari ini menjadi tenang setelah melihat Dina.
**
Aku pertamakali bertemu Dina di tangga sekolah. Aku tak sengaja menabrak buku yang dia bawa. Mukanya tampak masam saat itu, mungkin kesal. karena sedang terburu-buru, aku meninggalkannya begitu saja.
Pertemuan kedua, di lapangan olahraga. Hari itu ujian praktek bulutangkis. Siswa yang pertama dipanggil adalah Medina. Aku mengetahui namanya saat itu. Saat namanya dipanggil, ia melepas kaca matanya, menitipkan benda itu pada sahabatnya.
Permaianan sudah setengah jalan, saat ia ingin menangkis sattle cook, tiba-tiba benda itu mengeinai kepalanya. Mata teman-temannya tertuju padanya, tertawa. Wajah Dina saat itu merah, tertawa sambil meringis kesakitan. Mungkin karena minus matanya sudah terlalu parah, sattle cook pun tidak bisa ia lihat dengan jelas.
Aku mulai memperhatikan gerak-geriknya disekolah. Aku akui, wajahnya cantik, putih, matanya sipit. Tatapannya yang sendu membuat aku tertarik mengenalnya lebih jauh.
Namaku Nathan, saat ini aku duduk di kelas 12 SMA. Sejak masuk di sekolah ini, yang membuang-buang waktuku hanya Dina. Mencari tau informasi tentang dirinya setiap hari, layaknya penggemar gelap. Aku tidak tahu perasaanku dengannya. Hanya saja, hatiku tenang melihat dia tersenyum dengan sahabatnya. Matanya yang sipit tenggelam saat dia tertawa.
**


Masih belum kepikiran lanjutannya J semoga terhibur dengan karya saya J

2 comments:

Makasih udah buang-buang waktu baca tulisan absurd di blog ini. Jangan lupa tinggalkan jejak ya:)