Daily Life Pelajar Absurd

TERBARU

Sekeping Debu Dua Hari Yang Lalu



Rabu, 20 Oktober 2015 Pukul 11.05 WITA

Malam ini lelah menggelayut manja dipundakku. Kubaringkan tubuhku diatas hamparan kasur yang mulai menipis termakan waktu. Berat rasanya mata ini namun tak jua mau terpejam. Pandanganku terus menyapu langit-langit kamar. Sesekali aku merebah ke kanan dan kiri berusaha untuk menutup mata. Bukannya terlelap justru kepalaku makin pening. Entah apa yang terjadi pada diriku, tak biasanya aku bertahan membuka mata hingga larut begini. Apa mungkin ini tanda insomnia? Ah, sungguh tersiksanya diriku. Padahal aku tak Punya riwayat hidup penderita insomia. Dan aku rasa bukan itu penyebabnya.

Malam terus merangkak. Sunyi merayap bersama dinginya angin malam disertai rinai hujan yang membawa aroma tenang. Menusuk lapisan kulitku. Hanya ada suara detik jam dan deru nafasku. Jam dinding kamarku telah menunjukkan pukul 01.10. Itu artinya selama kurang lebih 2 jam aku hanya membalik-balikkan badan tanpa terbayar sedikitpun lelahku. Aku bangkit dari tempat tidur menuju dapur. Mulailah tanganku membuat minuman hangat untuk menemani sepiku. Sengaja kupilih duduk mengahadap jendela. Sambil menikmati coklat panas mataku tertuju pada bulir-bulir hujan yang jatuh membasahi bumi. Berhara menemukan inspirasi di tengah malam nan sunyi ini.

Beberapa teguk coklat panas tak juga mengalirkan inspirasi di benakku. Tanganku sudah tak sabar menggoreskan pena. Ku ketuk-ketukkan pena pada kisi jendela, hingga menimbukan suara unik antara pena, denting jam, dan rinai hujan. Iramanya bagaikan senandung lagu yang memecahkan kesunyian malam. “inspirasii.. oh inspirasi.. dimanakah kau?” rintihku.
Secangkir coklat panas dalam genggamanku pun habis tak jua penaku mampu menggoreskan satu kata pun diatas buku jurnalku. Hingga kelelahan mulai merayapiku. Namun kuhalau dengan percikan air wudhu. Akupun tenggelam dalam sujud panjang. Meminta secercah cahaya inspirasi untuk bahan tulisanku kali ini.
**
Kamis, 21 Oktober 2015 Pukul 08.05 WITA

Ngantuk mulai merayapiku. Semalam aku hanya tidur 30 menit. Ba’da salat subuh aku sudah mengerjakan semua pekerjaan rumah mulai bersih-bersih, mencuci piring, hingga masak pun sendiri. Maklum, perantau single. Aku lebih suka memasak sendiri daripada beli di warteg. Karena bisa dijamin kesehatan dan kehigienisannya.

Pletokkk!!!!

Sebuah bulatan kertas melayang ke meja kerja mengenai kepalaku. Refleks tanganku mengusap-usap kepala dan memutar badan ke arah datangnya bola kertas itu. Tidak sakit sih, hanya terkejut. Kupasang wajah garang dengan sorot mata penuh tanya, menyelidik. Si empunya malah cengar-cengir membuatku makin geram. Namun, pribadinya yang hangat dan humoris sanggup meluluhkan kejengkelanku padanya. Kembali aku menekuri layar komputer. Tak lama kemudia sebuah tangan mendarat dipundakku. Sudah bisa kuduga, pasti si Jayus, panggilan akrab M. Vergiant Vindiawan, rekan kerja yang melempar kertas tadi.
“serius amat bro? Amat aja ngga serius..” sapanya dengan joke andalan Khas Egi. Maka dari itu ia lebih dikenal dengan panggilan Jayus daripada Egi. Sebab ia selalu melontarkan joke-joke disetiap kesempatan.

Kali ini sengaja tak kuhiraukan dia. Kulipat kedua tangan didepan dada. Dengan wajah ditekuk dan kedua alis menyatu. Menandakan bahwa aku benar-benar sedang berfikir keras. Namun, bukan Egi namanya jika tidak ada cara untuk menghibur rekan kerjanya.
“ngopi dulu yuk, bro! Entar ente bisa stress lho mantengin komputer terus. Santai aja kalee.. kayak ane nih, awet muda,” goda Egi.
“apa hubungannya ngopi sama awet muda?”, aku angkat bicara.
“ya, jelas ada bro.” Dia mulai berlagak seerti seorang detektif. “ehem! Ngopi bisa bikin kita rileks. Karena bla.. bla.. bla.. bla. Nah, kalo pikiran kita selalu rileks maka keriput-keriput di wajah akan jauh. Sehingga wajah akan tampak segar setiap saat, seperti ini.” Sambil meletakkan ibu jari dan telunjuk dibawah dagu dengan bibir ditarik dua centi ke kanan dan kiri menunjukkan gigi-giginya yang berjajar rapi.

Ku kibaskan tangan kananku di depan muka, menanggapi ocehan Egi yang ngga bermutu. Melihat gelagatku yang tidak seperti biasanya, ia langsung bisa menebak isi hati dan pikiranku.
“sudah dua hari ane liat ente kagak punya spirit. Melalang buana kemaja jiwa ente?” hening sejenak. “ahaa, ane tau nih, lagi ngga dapet ide ya..?”, selidiknya. Kutanggapi ia dengan malas. Hanya kedua bahu dan alisku yang kuangkat.
“santai aja bro, Belanda masih jauh, dunia juga belum berakhir end masih banyak jalan menuju Roma. Jangan kuatir, ntar juga dapet. Gitu aja kok repot..”
“huffttt! Antum bisa ngomong kayak gitu, lah ane? Hampir mau pecah ini kepala. Untung ngga sampe frustasi.”, runtukku kesal. Padahal deadline Cuma 3 hari, udah 2 hari belum ada satupun ide yang muncul. Kalo hari ini juga gak dapet ide habislah riwayatku!” sambil kedua tanganku menyangga pelipis.

Kutarik nafas panjang dan menghembuskannya melalui mulut. Seakan kukeluarkan beban berat yang menyesakkan dadaku. Ku usap wajah dengan kedua tanganku untuk menghapus ketegangan yang terpancar jelas disana. Lalu ku rancang jemariku dan menarik kedua tanganku ke atas hingga ku rasakan otot-otot pinggangku yang kaku tertarik. Segera ku bangkit dari kursi kerjaku. Dan hal ini sangat mengejutkan Egi yang saat itu duduk dipinggiran meja kerjaku tak jauh dari tempatku berdiri. Wajahnya tampak tegang dengan mulut membulat. Kulangkahkan kaki ini menuju musholla kantor dengan gontai.
**
Kamis, 21 Oktober 2015 Pukul 08.35 WITA Di Musholla Kantor

Percikan air wudhu memberiku sensasi baru. Disetiap basuha kurasakan partikel-partikel air menyusup kedalam pori-pori. Menembus setiap sel dalam darah. Mengalirkan ion-ion positif menuju otak dan mengguyur setiap bagian dendrit dan neuron didalamnya. Melepaskan segala penat, lelah, dan ion-ion negatif yang bersarang disana. Seakan gumpalan beban itu luruh bersama air yang menetes dari bekas basuhan. Membangkitkan kembali semangat dan harapanku yang sempat pudar. Brrrr!! Segarrr!!!

Aku tenggelam dalam sujud panjang dhuhaku. Ingin rasanya aku menyentuh dan berhambur kepelukan-Nya seperti saat aku berhambur kepelukan Ibuku. Lalu kuluapkan segala keluh kesah, gundah, kesal, marah dan tangisku pada-Nya. Tak lupa kusandarkan segumpal asa dan karunia inspirasi untuk novel perdanaku. Yang rencananya akan dirilis dalam bentuk cerbung disebuah majalah remaja yang sedang ku garap bersama kawanku saat ini. Diri ini benar-benar hanyut dalam pusara agung antara aku dan Dia.

Usai melepas segala beban yang memenuhi hati dan pikiranku selama ini, tak sengaja kudengar pembicaraan kedua rekan kerjaku. Mereka bercengkrama tentang seorang trainer sekaligus motivator dari kalangan akar rumput. Seorang lelaki tangguh nan gigih asal desa terpencil Sulawesi telah banyak menarik perhatian semua kalangan. Sosoknya yang berwibawa nan bersahaja telah mampu menguatkan jiwa-jiwa yang rapuh, menghidupkan semangat yang runtuh, dan telah memberi warna kehidupan dengan sentuhan islami dari kedua tangannya. Kebetulan aku mempunyai beberapa buku beliau dan training-trainingnya yang diabadikan dalam kepingan DVD dan VCD. Karena aku termasuk salah satu orang yang mengagumi beliau.

Seperti diguyur hujan di musim kemarau di tengah siang di padang pasir tanpa selembar alas kaki. Rasanya benar-benar luar biasa!! Bisa dibayangkan bukan berseminya hatiku. Setelah sekian lama pikiranku berkelana nyaris putus asa. Tiba-tiba ia datang begitu saja mengetuk membran kepalaku dan menyelinap dalam benak. “yaps! Bravo! Akhirnya kutemukan juga!”, seruku dalam hati.
Tanpa basa basi, aku langsung cabut dari mushola dan siap meluncur ke meja kerjaku. Aku tak bisa menutupi kegembiraanku. Senyumku terkembang menghias wajah yang masih segar oleh wudhu. Dengan penuh antusias aku mulai menuangkan ide-ide dalam buku jurnal sebelum ide brilian itu menguap ke udara. Lalu mulailah jemariku menyentuh keyboard menuliskan huruf demi huruf, merangkai kata demi kata menjadi sebuah cerita. Jika sudah seperti ini tak ada seorang pun yang bisa memecahkan konsentrasiku, tak terkecuali Egi alias si Jayus.

Beberapa saat kemudian, “wuidihh, semangat bener, bro! Kesambet apaan ente di Mushola?” seru Egi yang sudah berada tepat di belakangku. “tadi aja mukanya ditekuk tujuh lipatan eh, sekarang malah senyum-senyum sendiri ... udah dapet inspirasi ya?” menyelidik hasil tulisanku di layar komputer.
“ck..ck..ck,” geleng-geleng kepala. “heran ane ama ente, cepet banget ganti suasananya. Ups! Iya ya, antum kan gudangnya ide briliant blaa.. bla.blaa..” lanjutnya. Kali ini dia berdiri disisi kananku dan berkacak pinggang persis seorang mandor sedang mengawasi pegawainya.
Aku tak bergeming. Tak lama kemudia ia mulai menyadari bahwa kehadirannya tak mengubah pendiriankuu sedikitpun. Karena merasa kesal tidak kuhiraukan ia, akhirnya dengan bersungut-sungut ia menyerah juga.
“beuhh, kacang ..kacanggg..!!” ia berseru ditelingaku. Sambil berlalu.
”kasian banget sih, ane dikacangin.”
**
Kamis, 21 Oktober 2015 Pukul 21.22 WITA

Alhamdulillah.. tulisanku akhirnya rampung juga, tinggal bagian endingnya yang belum kuselesaikan. Meski begitu aku sudah cukup puas bisa menyelesaikan hari ini juga. Selanjutnya aku harus mempersiapkan presentasi untuk besok.
Suasana kantor mulai sepi sejak pukul 20.00 WIB tadi. Dinginnya malam menyerbu kulitku saat baru keluar dari lobi. Kukenakan jaket bludru hadiah ulang tahun ke 18 dari ibuku. Meski sudah 3 tahun tapi masih muat dibadanku dan warnanya pun masih bagus. Lumayan, bisa melindungiku dari gigitan ganas angin malam.

Setiap hari aku meluangkan waktu untuk muhasabah. Namun kali ini berbeda dari biasanya. Aku tidak langsung pulang ke kontrakan, melainkan mengahbiskan waktu muhasabahku di masjid dekat kantor tempatku bekerja. Masjid ini membuka pintunya lebih lama dari hari-hari  biasanya. Jika hari biasa masjid ini tutup jam 22.00 maka hari jumat akan buka 24 jam. Suasana masjid ramai oleh pengunjung yang singgah untuk beribadah. Suara lantunan ayat suci Al-Quraan membahana dari sudut masjid ke sudut masjid. Ada bermacam aktifitas disana. Ada yang mengadakan kelompok pengajian kitab, beri’tikaf, dan sekedar siggah untuk menghalau lelah.

Aku mengambil tempat agak sepi di dekat tiang penyanggah. Perlahan aku mulai membuka mushaf kecil yang selalu kubawa kemana saja. Ku lanjutkan capaian tadarrusku dan kubaca dengan bacaan terbaikku, dengan tartil. Memang beda rasanya jika kita membaca Al-Quran dengan tartil. Apalgi kita paham artinya meski sedikit. Aku terhanyut dalam lautan firman-Nya. Saat aku membaca ayat-ayat siksa, rasanya jiwa ini terguncang. Seperti terombang-ambing dilautan. Tersesat di tengah hutan belantara. Ada kengerian dan rasa takut akan siksa-Nya. Bahkan jantung ini berdetak lebih cepat, nafas pun seakan tercekat. Namun saat membaca ayat nikmat dan kabar gembira, jiwa ini seakan melayang jauh ke udara. Menembus cakrawala, mengelilingi angkasa. Semua beban terurai, seakan surga di depan mata. Tak hentipula sel-sel saraf melompat girang mengalirkan enzim. Yang ada hanya kebahagiaan dan ketenangan.

Tepat di ayat ke 30 surah An-Nuur aku berhenti. Tiba-tiba nafasku tercekat di tenggorokan. Lidahku kelu, dan tubuhku terasa kaku bagaikan tersambar petir. Bukan karena takut, melainkan terkejut oleh teguran-Nya. Dia selalu punya cara untuk mengingatkan hamba-Nya. Disana ia berfirman : “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menjaga pandangan dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh Allah mengetahui apa yang mereka perbuat”.

Otak kecilku mulai bekerja, membuka memori peristiwa dua hari yang lalu. Aku tersadar, sebelum kran inspirasiku tersumbat ada satu hal yang luput dari perhatianku. Sekeping debu kekhilafan telah merenggut kejernihan hati dan pikiran. Sepercik noda yang luput dari pertaubatan berdampak serius pada diriku. Astagfirullah..!!! tak terasa denting kristal menitik dari kedua bola mataku.
“Ya, Rabb.. ampuni hamba-Mu yang khilaf ini,” rintihku. Lalu ku usap wajahku dengan penuh harap akan ampunan dan ridho-Nya.

Berawal dari pandangan tak disengaja. Waktu itu, tepatnya dua hari yang lalu, aku baru selesai salat jumat di masjid ini. Saat hendak menuju ke kantor mataku menangkap sosok muslimah melintas beberapa meter di depanku. Seorang muslimah anggun dengan balutan jilbab dan kerudung besarnya, menjaga kehormatannya dan pandangan lelaki yang belum halal. Pandangannya tunduk langkahnya tidak dibuat-buat dan sedikit cepat, kedua tangannya menggenggam setumpuk kitab dan mushaf menuju ke masjid. Darahku mengalir deras. Ada sesuatu yang aneh dalam diriku. Cepat-cepat ku alihkan perhatianku sebelum dorongan manusiawi itu menguasai akal sehatku.
Sejak saat itu pikiranku tidak fokus. Namun tak jua bisa menerjemahkan apa yang ada di baliknya. Sungguh manusia yang sangat lemah. Tak mampu sekedar menerjemahkan apalagi menguasai hatinya selain dengan taufiq dari-Nya. Aku bertekad akan lebih berhati-hati menjaga amanah yang telah dikaruniakan-Nya padaku.
Kubaca sekali lagi ayat ke 30 dari surah An-Nuur sebelum menutup muhasabahku. “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menjaga pandangan dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh Allah mengetahui apa yang mereka perbuat”.
***

-------------------------------------------------------------

Alhamdulillah, akhirnya cerpen ini selesai tanpa ada hambatan sedikitpun. Terimakasih ya Allah atas karunia yang kau berikan padaku. Inspirasi yang terus mengalir hingga membawa cerpen ini sampai pada endingnya. Semoga jadi motivasi buat yang baca. Jangan lupa untuk terus berbuat baik dan memperbaiki diri. Allahuakbar!! Jangan lupa komentar ^^

No comments:

Post a Comment

Makasih udah buang-buang waktu baca tulisan absurd di blog ini. Jangan lupa tinggalkan jejak ya:)