Mengapa Dia Sukses Tapi Saya Tidak?


Pernahkah anda memperhatikan tetangga di sekitar rumah? Jika dicermati, kita bisa melihat ada tetangga yang hidupnya jauh lebih sejahtera daripada tetangga lainnya. Ada yang mampu membeli mobil baru setiap lima tahun sekali, namun ada juga yang terus menggunakan sepeda motor yang sama selama 10 tahun. Melihat kenyataan yang demikian, mungkin mulai muncul rasa ingin tahu pada diri anda “apa yang membuat nasibnya dan nasib saya berbeda? Kok bisa ya dia lebih kaya dan sejahtera sementara saya begini-begini aja, tidak ada kemajuan berarti dalam hidup?”

Pertanyaan-pertanyaan serupa juga sering terbesit dalam benak kita ketika mendengar teman sekelas yang sukses, padahal dulu di kelas ia terkenal bandel dan tukang berantem. Ini merupakan pertanyaan-pertanyaan wajar yang pasti akan muncul jika berada dalam situasi ini. Banyak orang kaya yang awalnya dikenal tidak memiliki apa-apa atau bahkan memiliki kekurangan seperti cacat fisik, misalnya Albert Einstein.

Albert Einstein, sang ilmuan penemu salah satu rumus fisika terpenting dalam kehidupan, melewati masa kecilnya dengan banyak kendala. Ia adalah penderita Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) yaitu orang yang mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi pada suatu hal, tidak mampu mengontrol perilakunya, terlalu aktif, dan kombinasi dari ketiganya. Einstein juga mengalami keterlambatan bicara. Ia baru mulai mampu mengucapkan kata-kata pada usia 3 tahun, padahal normalnya seorang anak sudah mulai bisa mnegucapkan kata-kata ketika berusia satu setengah tahun. Lantas, bagaimana mungkin orang seperti Einstein kemudian menemukan teori relatifitas yang menjadi salah satu pilar terpenting dunia fisika modern? Bagaimana orang yang punya kebiasaan mudah lupa dan sering kehilangan kunci rumahnya bisa menemukan bom atom?

Kita mungkin terkagum-kagum akan penemuan-penemuan Einstein. Sama halnya dengan keirian kita terhadap tetangga atau teman sekolah yang lebih sukses. Lalu, kita penasaran bagaimana hal itu bisa terjadi pada mereka dan bukan pada anda, sehingga memunculkan pertanyaan, “apakah saya kurang keras dalam bekerja? Apakah karena saya tidak beruntung? Apakah karena saya melewatkan kesempatan emas dalam hidup?” ya, kita bisa mengatakan apa saja mengenai ketidak berhasilan kita, tapi biasanya kita tidak menyadari bahwa seringkali hal yang membuat kita kitak maju-maju adalah karena kita belum menghilangkan kekangan yang kita ciptakan sendiri di alam bawah sadar kita. Kekangan pada alam bawah sadar ini disebut dengan mental block.


------------