Tidak Mengenal Diri Sendiri


Seringkali kita mengenal orang berkata bahwa mengenal diri sendiri itu sangat penting agar kia bisa mengenal orang lain dengan lebih baik. Namun, sebenarnya dimanakah letak hubungan antara mengenal diri sendiri dan mengenal orang lain? Kita mungkin sering menemui ada orang yang terlihat mampu mengerti orang lain, namun dia sendiri sulit mengerti dirinya sendiri. Ia mampu melihat kekurangan dan kelebihan orang lain, namun tidak bisa memahami kekuatan dan kelemahan dirinya sendiri.

Seorang anak yang kesulitan mengerjakan soal-soal matematika seringkali docap bodoh dengan mudahnya tanpa melihat bahwa mungkin talenta anak tersebut sebenarnya dibidang lain seperti seni lukis, misalnya. Kita sendiri waktu kecil pasti sering mendengar orang tua atau guru menasehati agar kita serajin teman lain. “lihat tuh si Amir, nilainya bagus-bagus terus. Dia penurut dan rajin belajar, nggak kayak kamu”, atau mendengar komentar teman  “kamu baca buku terus, ntar jadi kutu buku lho, nggak gaul”. Komentar-komentar seperti ini tertanam dalamotak sebagai program yang menyuruh memahami orang lain dan bukan diri kita sendiri. Program ini meminta kita melihat kelebihan atau kekurangan orang lain dibandingkan diri sendiri. Kita tidak terbiasa untuk mengenal karakter yang kita bawa sejak kecil. Kita tidak belajar untuk mengerti apa yang membuat kita bahagia.

Mark Zuckerberg, sang pendiri facebook, terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Hardvard yang terkenal sering mencetak orang-orang pandai dan terkenal. Ia mendedikasikan diri sepenuhnya kepada impiannya membuat jejaring social yang lebih mumpuni daripada yang sudah ada saat itu. Ia tidak terlalu mempedulikan omongan orang bahwa seharusnya dia lebih berkonsentrasi pada kuliahnya ketimbang berkutat dengan program-program kompternya. Ia memahami dirinya dan hal-hal apa yang membuatnya bahagia. Ia tahu pasti bahwa dengan karakternya yang persistent, tidak takut mencoba hal baru, dan keras terhadap pendiriannya, ia akan bahagia bila bisa menciptakan suatu penemuan yang berguna untuk orang lain. Di saat mahasiswa Hardvard lainnya sibuk dengan tugas-tugas kuliah untuk mengejar nilai tertinggi, Mark sibuk menciptakan aplikasi yang dapat diakses oleh setiap orang dari berbagai belahan dunia yang ingin tetap terhubung dengan teman-temannya. Saat teman-temannya dari Hardvard menulis CV untuk mencari pekerjaan, Mark sudah mendapatkan jutaan dollar dari hasil karyanya tersebut.

Dalam buku Personalyti plus, karangan Florence Littauer disebutkan bahwa secara umum, karakter manusia dibagi menjadi empat, yaitu kepribadian koleris, sanguinis, melankolis, dan plegmatis. Orang dengan kepribadian koleris umumnya tidak mudh menyerah, menyukai tantangan, berorientasi pada tujuan, tegas, cepat dalam mengerjakan sesuatu. Disisi lain, ia juga tidak sabaran, mudah marah, seringt tergesa-gesa, menyukai kontroversi dan kurang dapat berempati. Seorang sanguinis biasanya berkarakter ceria, ekspresif, penuh rasa ingin tahu, tulus kepada orang lain, dan hampir-hampir tidak punya dendam. Kelemahannya, biasanya tidak dapat berkonsentrasi terlalu lama pada suatu hal, pelupa, implusif, agak ceroboh, dan kurang disipilin.

Kepribadian melankolis terlihat dari perilakunya yang serba teratur dan terjadwal, menyukai segala sesuatu yang tertata rapi, suka menganalisa seseorang atau sesuatu keadaan, dan akan selalu menuntaskan pekerjaan dengan baik. Seorang melankolis memiliki keadaan dan akan selalu menuntaskan pekerjannya dengan baik. Seorang melankolis memiliki kelemahan, yaitu sifatnya yang perfeksionis, mudah merasa bersalah jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan semestinya, sulit mengungkapkan perasaan, dan seringkali tidak mudah mempercayai orang lain. Orang yang memiliki kepribadian plegmatis digambarkan sebagai orang yang cinta damai, tidak menyukai konflik, sabar, mudah bergaul, dan tidak suka menyinggung perasaan. Namun, ia juga cenderung tidak menyukai perubahan atau hal baru, kurang termotifasi, dan suka menunda-nunda sesuatu.
Dari empat keribadian yang dijelaskan diatas, kita bisa melihat bahwa setiap orang dilahirkan dengan keunikannya masing-masing. Karakter setiap orang berbeda-beda, namun saling melengkapi. Disini, kemampuan kita mengenali bagaimana karakter kita sebenarnya akan banyak membantu dalam pengambilan keputusan-keputusan dalam kehidupan kita. Dengan memahami karakter kita sendiri, kita dapat lebih mengenal dan memiliki respek  kepada orang lain, sebuah  ilmu yang penting dalam hubungan sosial setiap orang.

Sayangnya, seringkali terjadi adalah sebaliknya. Kita merasa sangat memahami orang lain sehingga kita merasa berhak menilai atau memberi label kepada mereka. Dengan mudahnya kita mengatakan, “pantas saja bisnisnya sukses, dia kan anak orang kaya” atau “dia jelek, tapi kok pasangannya cantik ya”. Orang-orang yang bisa bicara seperti ini merasa ia sangat memahami orang lain lebih dari orang itu sendiri memahami dirinya. Orang-orang seperti ini terjebak dalam mental block yang dapat membuat mereka dihindari lingkungannya. Jika salah satunya, sebaiknya kita mulai mengahancurkan hambatan yang kita ciptakan sendiri ini agar kita tidak memiliki kesulitan dalam mencapai kesuksesan.

Before you start pointing fingers, make sure you hands are clean adalah salah satu kalimat terkenal dari sang legenda Bob Marley. Ia menekankan agar ita tidak mengahakimi orang lain salah atau benar jika kita sendiri tidak tahu siapa diri kita. Jangan menjadi orang yang suka mengecilkan arti orang lain agar merasa lebih hebat. Sebaliknya, jangan pula mengecilkan arti diri sendiri karena hal tersebut hanya akan membuat kita melihat diri sendiri sebagai pribadi yang negatif. Kata-kata seperti apalah artinya diri saya, atau memangnya siapa yang mau mendengarkan saya merupakan contoh ungkapan orang-orang yang memiliki persepsi negatif mengenai dirinya sendiri. Orang seperti ini sebenarnya tidak mengenal kelebihan dan kekurangan dirinya.

Mengenal diri sendiri sangat penting karena dengan begitu kita menjadi tahu akan kekurangan dan kelebihan kita. Dengan demikian, lebih mudah untuk kita memperbaiki kekurangan dan juga tidak sulit bagi kita untuk mengoptimalkan kelebihan yang ada pada diri kita. Banyak orang yang tidak bisa melihat kekurangan dan kelebihan dirinya karena ia merasa sangat pandai dan bisa melakukan apapun. Orang seperti ini biasanya sulit menerima masukan dari orang lain karena merasa paling tahu banyak hal, padahal mengetahui kekurang dirinya pun tidak.

Menganl diri sendiri menjadi awal kelebihan dan kekuatan diri kita dalam melangkah. Orang-orang yang tidak mengenal dirinya sendiri cenderung menyalahkan keadaan ataupun orang lain ketika mengahadapi kesulitan. Jarang dari mereka bisa mengakui kesalahannya sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari dan untuk kesuksesan kita dalam menjalani tahap-tahap kehidupan, mengenal diri sendiri sangatlah penting. Kita jadi lebih mudah membangun kepedulian, tanggung jawab serta komunikasi dengan orang lain. Dengan kemampuan untuk memahami orang lain, kita lebih mudah berempati dan peduli akan perasaan orang lain, jauh dari sifat egois, buruk sangka, dan putus asa.

Ada quote dari Aristoteles nih...

“mengenal diri sendiri merupakan awal dari kebijaksanaan hidup”
Ok baiklah, saya undur diri dulu. Jika berkenan, jangan lupa tinggalkan jejak J


----------

3 komentar

iya kak, eh btw minta follback twitterku kak:D

Reply