Sekolah? Nggak Usah Ngerjain Tugas!

Gue udah ujian semester lagi. Soal-soalnya memang lebih sedikit, sekitar 25 nomer. Tapi, tingkat kerumitannya jauh lebih tinggi dan ribet ketimbang semester lalu. Guru-guru baik layaknya orangtua sendiri di semester satu udah mulai berkurang. Yang ada hanya guru-guru berhati killer dibalik tampang yang lembut seperti anak kecil. Guru yang nggak memberikan siswanya remedial ulangan, tugas-tugas yang rumit atau catatan yang harus dikumpulin (belum lagi tiap bab ada ulangan hariannya). Guru yang hanya menerima acc (persetujuan) di waktu-waktu tertentu. Dan juga Guru yang sering absen dan ngadain tugas pengganti seenak jidat.

Gue udah ngerasain sedikit asam-manis sekolah. Serius (maklum udah 11 tahun). Di sekolah, pepatah "Guru adalah Tuhan" itu berlaku. Guru selalu benar walaupun salah. Gue telat 10 menit diomelin, guru telat 10 menit gue lagi yang diomelin, "Kamu sih datengnya kepagian!" LAH?!





Dari guru yang baik kayak malaikat sampai ganas kayak singa belum makan tiga hari, semuanya ada di sekolah. Sekolah itu nggak sama kayak yang di TV atau film-film. Datang dengan wajah bahagia, menyapa teman dan guru dengan ceria, mengerjakan tugas dengan gembira, serta lulus tepat waktu dengan nilai UN tinggi dan membanggakan orangtua. Sekolah tidak seindah itu, teman.

Ada aja halangan kayak guru-guru yang subjektif. Ketika guru ini nggak suka sama lo, jangan ngarep bisa dapet nilai maksimal di mata pelajaran itu dengan mudah. Lebih ekstrim lagi kalau itu mata pelajaran jurusan lu. Bisa-bisa, lo fail mata pelajaran ini karena alasan sepele: “dia nggak suka sama lo. Mau marah? Nggak bisa. Guru adalah Tuhan. Lo mau marah sama Tuhan? Dosa. Masuk neraka.” Heh?

Untungnya, gue belum punya masalah dengan guru-guru yang subjektif itu. Jangan sampai. Cukup mendengarkan ceritanya dari teman-teman sekolah gue yang udah berpengalaman masalah begituan. Itu udah lebih dari cukup.

Tugas itu hanya mitos. Sekolah? Nggak usah ngerjain tugas! Tugas yang ngerjain kita.