Daily Life Pelajar Absurd

TERBARU

Fokus Kejar IPK Tinggi atau Kuliah Sambil Ikut Organisasi


Sebagai calon mahasiswa yang baik, belakangan ini gue disibukkan dengan spekulasi-spekulasi berat yang datang bergantian ngubek-ngubek fikiran gue. Yak, karena gue masih fresh graduate dari SMA yang baru menjalani libur hampir sebulan otomatis otak gue jadi agak madet-madet karena jarang ngapa-ngapain selama liburan dan kurang diasah. Intinya, gue jadi jarang mikir keras.

Belakangan ini banyak kakak-kakak kelas udah kuliah yang nanyain, “lulus di universitas apa?”, dan ada juga yang nawarin beberapa UKM dan Organisasi-organisasi mereka yang sejalan dengan jurusan gue.

Buat kalian yang belum tau, gue lulus Universitas Hasanuddin jurusan Geofisika lewat jalur SNMPTN. Yak, sebuah hoki besar tahun ini mengingat dari awal tahun sampe sekarang gue berasa sial mulu.

Dua hari yang lalu, gue kepikiran sesuatu. Karena intervensi dari senior-senior yang semesternya udah tinggi, mereka ngajak gue diskusi seputar dunia perkuliahan gue nantinya. Mereka ngasih banyak banget saran dan motivasi biar nanti pas awal-awal kuliah ngga “kaget” karena kehidupan anak SMA dan mahasiswa itu jauh berbeda.

Gue kefikiran tentang kehidupan gue saat jadi mahasiswa nantinya bakal kek gimana. Apakah gue akan memilih Fokus Kejar IPK Tinggi dengan tujuan lulus secepatnya atau Kuliah sambil ikut Organisasi-organisasi di kampus yang bakal memperluas jaringan dan bekal berinteraksi dengan publik nantinya saat lulus.

Karena pusing dan males mikir sendiri, akhirnya gue mengajak beberapa senior yang gue fikir udah punya pengalaman matang untuk jadi narasumber dari pertanyaan keramat gue :

Fokus Kejar IPK Tinggi atau Kuliah Sambil Ikut Organisasi

Dua hal diatas emang jauh berbeda. Mungkin untuk fresh graduate semacam gue bakal milih pilihan pertama, dengan alasan yang mendasar juga tentunya. Pertama, gue orangnya kurang sosialisasi karena bawaan dari lahir males ngomong langsung kalo ngga penting dan malah sok aktif di sosial media (berbanding terbalik, kan?). Yang kedua, gue ngga mau nantinya pas kuliah bakal keganggu sama rapat-rapat organisasi yang notabene bakal ganggu waktu kuliah yang bakal berpengaruh besar ke IPK kita nantinya. Ketiga, jam istirahat berkurang. Yang tadinya waktu lowong yang bisa dipakai buat tidur sepanjang hari, nonton TV sambil kayang, dan jalan-jalan di akhir pekan harus sirna karena kegiatan organisasi.

Macam-macam alasan absurd gue tadi dipatahkan oleh spekulasi dari kakak-kakak senior yang udah gue kepoin 2 hari yang lalu. Jawaban-jawaban mereka bikin gue nelen ludah. Sebagian besar dari mereka milih pilihan kedua dan Cuma satu dua orang mendukung pilihan pertama gue.

Bagi kalian yang punya masalah yang sama dengan gue, dihadapkan dengan pilihan keramat seperti diatas, gue udah melakukan wawancara kilat dengan kakak-kakak dari kampus yang berbeda lewat sosial media. Pendapat mereka macam-macam dan menurut gue bisa membawa perubahan besar buat mindset kalian nantinya pas jadi mahasiswa.

Ok, mari kita mulai.

Pertanyaannya sama kek yang sebelumnya.

Fokus Kejar IPK Tinggi atau Kuliah Sambil Ikut Organisasi
Pendapat pertama diawali dari :

KEYNESGARA WENEFRI TANAN [Teknik Elektro, Politeknik ATI Makassar]

Dia ini teman diskusi saya. Dan karena namanya Key, dan saya orang Indonesia asli, maka saya memanggilnya “kunci” saja. Kakak Kunci ini memilih kuliah sambil berorganisasi. Kenapa?

1. Wawasan lebih luas. Karena ada ilmu yang bisa kita dapat dari organisasi dan tidak ada di akademik.

2. Jaringan kita luas. Maksudnya dalam hal mencari pekerjaan. Jika banyak teman di organisasi, kita bisa mencari lowongan pekerjaan dari mereka-mereka yang sudah bekerja.

3. Kita dilatih menyelesaikan masalah. Contohnya dalam kepanitiaan atau kegiatan organisasi. Kita juga dilatih untuk publik speaking.

Selain ketiga poin mendasar tadi, Kak Keynesgara juga menambahkan manfaat berorganisasi saat jadi mahasiswa itu kita diajarkan untuk melawan. Dalam artian tidak menjadi budak dan diajarkan untuk menjadi manusia yang sebenarnya. Intinya, memanusiakan manusia. Wujud dari realisasi tadi adalah dengan demo (weew). Menurutnya, demo adalah salah satu bentuk perlawanan. Karena dalam demo, menurutnya, kita menjadi mahasiswa yang sebenarnya.

Cukup mengubek-ubek mindset kita ya, guys. Hehe.

OFELIA GRASIA SANTONIO [Fakultas Hukum, Universitas Hasanuddin]

Kakak bermata minimalis ini memilih pernyataan yang kedua. Kenapa?

Karena lewat oranisasi, kita lebih banyak belajar karena dipertemukan dengan orang banyak. Berbagi ilmu dengan orang lain, yang mana ilmu itu pastinya dari riset mereka masing-masing. Jadi kita semacam mendapatkan solusi dari orang-orang yang sudah pernah mendapatkan problem yang sama sehingga ilmu itu dapat sangat membantu kita yang apabila kemudian hari menemukan problem serupa. Pembelajaran di kampus juga terlalu formal, terlalu mengikut standar kompetensi. Lagipula dengan memiliki IPK 4, tidak akan membedakan kita dengan mahasiswa IPK 4 yang lain, namun dengan berorganisasi, ilmu kita lebih beragam bergantung pada lingkungan dan orang-orang yang kita ajak berbagi.

AMIRULLAH [Teknik Mesin, Universitas Hasanuddin]

Berbeda dengan kakak-kakak yang tadi. Kali ini narasumber gue memilih kedua pernyataan yang gue ajukan. Alasannya karena :

Kalau menurut saya, lebih baik diseimbangkan diantara satu dan dua tadi. Jujur, mulai dari semester 2 saya sudah aktif berorganisasi dan menginjak semester 4 saya menjadi pengurus inti di organisasi. Dan semester 6 saya sudah menjadi Ketua Umum. Selama saya terjun di organisasi kemahasiswaan saya tetap mengimbangi urusan akademik saya. Dan alhamdulillah IPK saya saat ini 3.26, angka yang tidak mudah didapatkan di Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin. Kuliah kan dinilai sama dengan 1 dan organisasi dinilai 0, jika keduanya dijalankan maka sama dengan 10. Dan jika Cuma organisasi yang kalian jalankan maka sama dengan 0. Intinya, kalian datang ke kampus jangan melupakan kewajiban yaitu kuliah dan kerjakan juga hal sunnah seperti berorganisasi.

FITRAH NURAWAL TAUFIK [Teknik Sipil, Politeknik Negeri Ujung Pandang]
Kakak kelas saya di SMA ini memilih pernyataan kedua. Alasannya:

Kuliah itu tidak sama dengan masa SMA yang dimana kita dituntut datang ke sekolah pagi, pulang sore hari. Siklus yang berjalan kurang lebih 12 tahun dari dasar sampai menengah. Dalam dunia SMA juga ada organisasi hanya saja dalam organisasi tersebut masih ada batasan didalamnya. Mungkin karena faktor orang tua yang belum sepenuhnya memberikan izin untuk bebas melakukan hal. Nah sekarang di perkuliahan, bedanya hanyak waktu yang tidak pasti. Kadang siang, sore, pagi, kita datang di kampus. Dan pulang juga tidak pasti. Organisasi di dunia perkuliahan memiliki banyak dampak kedepannya. Banyak hal yang tidak dipelajari di lingkup akademik. Sehingga harus kita temukan hal yang tidak ada itu. Melalui organisasi, beberapa pelajaran non akademik yang dibutuhkan dan berpengaruh kedepannya bisa kita temukan.

Mengenai perbedaan kuliah dengan mengejar IPK tinggi atau kuliah sambil berorganisasi, pendapat lain kak Fitrah mengatakan :

1. Jadi organisator memang baik, Cuma jangan terlalu fokus. Usahakan disinkron lah.

2. Melalui organisasi kita bisa tahu yang namanya manajemen. Entah waktu, ekonomi, dan resiko.

3. Teman dan lawan bisa berasal dari organisasi. Rasa sakit hati dan kasih sayang juga.

Dan itu semua tidak ada di dunia mahasiswa pengejar IPK.

FABIO JOHNY KOUNANG [Jurusan Sistem Informasi Manajemen, STMIK Kharisma Makassar]

Kalian anak basket? Pasti ngga asing dengan nama ini. Yak, saat dia SMA, dia rintisan DBL . Ituloh, lomba basket bergengsi yang bikin cewek SMA meleleh. Kak Fabio ini pernah jadi utusan DBL buat main basket ke Australia, weeww. Dan jadi peserta PON di Jawa Barat 2016 lalu. Lucunya, dia jadi teman ngeblog gue sekarang. Haha. Unik ya, pemain basket merintis karir jadi blogger. :D

Masih sama dengan kakak-kakak diatas, dia juga memilih untuk kuliah sambil berorganisasi, kenapa?

Saya mending kuliah sambil ikut organisasi. Tapi jangan karena organisasi kalian jadi mengabaikan kuliah. Lewat organisasi itu kita dilatih untuk berkomunikasi dengan banyak orang, dan bermanfaat nanti kedepannya saat terjun di masyarakat. Ilmu saat kuliah mungkin yang terpakai Cuma 30%. Karena kuliah itu kebanyakan teori dan organisasi itu kebanyakan praktek. Sebetulnya, yang paling susah dihadapi itu bukan pekerjaannya, tapi manusianya. Jadi lebih banyak berinteraksi di organisasi lebih baik karena kita dilatih untuk mengetahui karakter-karakter orang dan cara mengatasinya. Kalau menghadapi pekerjaan harus pakai otak, sedangkan menghadapi manusi harus dengan hati. Bahkan saat berargumen dengan orang lain, sebaiknya pakai otak tetapi juga dengan hati. Kita harus berfikir kedepan, jika kita mengambil suatu langkah harus juga memikirkan dampaknya bagaimana.

RICKY THE ISING [Matematika, UGM Yogyakarta]

Dia ini orang Makassar, pemilik medali emas OSN Matematika tingkat nasional dan mengambil jurusan yang sama di UGM. Master numerik ini memilih pernyataan satu. Alasannya :

Itu sangat tergantung orangnya. Kalau saya pribadi, di tahun pertama ini ngga ikutan organisasi sama sekali. Soalnya punya target olimpiade dan kejar IPK tinggi. Targetku sebenarnya selesaikan olimpiade di tahun pertama supaya tahun depan bisa aktif di organisasi sedikit-sedikit. Tapi saya juga tidak akan terlalu aktif di organisasi karena takut tidak ada waktu belajar seperti beberapa temanku. Tapi jika seandainya memang mau fokus organisasi, hal yang terpenting yang diingat itu luangkan waktu 30 menit untuk review pelajaran tiap hari (ini hanya sedikit yang bisa melakukan). Gunanya untuk review ditambah membentuk kebiasaan belajar dan tidak kewalahan di musim ujian.

FIYOLA MUTIARA [Teknik Sipil, UKI Paulus Makassar]

Kakak cantik ini lagi-lagi memilih pernyataan kedua, karena :
Kalau menurut saya, lebih baik “kuliah sambil berorganisasi”. Karena di organisasi itu kamu bisa menambah wawasan, memperluas pergaulan, kuat menghadapi tekanan atau masalah, di organisasi juga kamu bisa melatih leadership. Contohnya di organisasi kamu bisa berlatih berbicara di depan umum. Apa gunanya IPK tinggi jika kamu tidak bisa memanfaatkan atau menyalurkan idemu. Di dunia kerja itu yang dibutuhkan tidak hanyak IPK tinggi tetapi juga pengalaman. Banyak orang yang memiliki IPK tinggi tapi tidak andal dalam memimpin itu karena pengalaman dia di organisasi kurang. Alangkah baiknya jika IPK tinggi sambil ikut berprganisasi.


ANDIPA DANUARTA HERWINDO [Teknik Geodesi, Institut Teknologi Bandung]

Kakak ini memilih keduanya. Menurut dia :

Yang paling bagus sih kalo IPK bagus dan organisasi juga jalan. Soalnya di dunia kerja, kita ngga butuh Cuma IPK saja. Kita juga butuh skill untuk berkomunikasi dengan orang banyak makanya organisasi dibutuhkan banget.


ARYADI SYAM [Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, UIN Alauddin Makassar] 

Menurut kakak kelas saya ini :

Pengalaman organisasi itu sudah pernah didapatkan saat SMA. Kalau kuliah, fokus ke IPK sama ilmunya saja. Tapi bagus juga jika diimbangi dengan berorganisasi. Sudah cukup berorganisasi di SMA, jadi saat kuliah fokus saja dengan disiplin ilmu yang diemban. Plus tambah-tambah ilmu agama juga.

IRWANSYAH JAMALUDDIN [Perawatan dan Perbaikan Mesin, Politeknik Bosowa]

Kakak yang punya lesung pipi ini tidak menyebutkan pilihannya, pendapat dia mengatakan:

Sebenarnya semua dari pilihan tersebut ada untung sama ruginya.

1. Kuliah fokus kejar IPK tinggi. IPK Cuma dipakai di berkas pada saat melamar pekerjaan, tapi jika masalah pengalaman dalam bekerja kelompok mungkin tidak dimiliki.

2. Kuliah sambil berorganisasi. Menurutku bagus, karena di dalam organisasi kita diajarkan untuk berbicara di depan umum, menyatakan pendapat, belajar bekerja kelompok, berani dalam berbagai hal seperti presentasi yang bermanfaat untuk dunia kerja nantinya.


BERLIN [Teknik Geologi, Universitas Hasanuddin]

Menurut admin grup maba UNHAS di line ini :

Kuliah sambil berorganisasi lebih bagus. Karena dari organisasi kita banyak belajar, bukan Cuma dari disiplin ilmu yang kita geluti. Dengan berorganisasi, kita bisa mengenal banyak teman yang mengajarkan kita bagaimana bekerjasama dan toleransi, bagaimana kita belajar memahami banyak orang yang berbeda karakter dengan kita. Mahasiswa yang aktif berorganisasi tidak bisa dipandang remeh, mereka juga cerdas asalkan bisa membagi waktunya.

SURYA CAHYADI SYAM [Statistika, Universitas Hasanuddin]

Menurut kakak kelas gue ini :
Kuliah sambil berorganisasi lebih baik. Karena banyak hal yang di organisasi tidak diajarkan dalam perkuliahan. Rugilah seorang mahasiswa yang punya IPK tinggi tapi tidak punya pengalaman organisasi. Kebanyakan petinggi negara itu mantan-mantan organisator saat mencicipi bangku perkuliahan dulunya.

AGUNG DIN EKA HIDAYAT [Pendidikan Fisika, Universitas Negeri Makassar]

Mantan ketua umum HIMAFI UNM periode 2015/2016 ini menuturkan bahwa :

Alangkah lebih bagus sambil berorganisasi. Kampus adalah ruang untuk berproses. Hasilnya akan dilihat setelah selesai melewati dunia kampus. Semakin banyak proses yang kamu alami maka semakin kaya hasil yang akan kamu dapatkan.

Cukup singkat dan padat ya, guys.

ANDI RIZALDI AKBAR [Perikanan, Universitas Hasanuddin]

Menurut kakak kelas pejuang SBMPTN 2016 ini :

Kalau kita Cuma kejar IPK tinggi, bisa-bisa jadi mahasiswa kupu-kupu. Karena IPK tinggi, mungkin kita bisa lolos berkas di perusahaan. Nah masalahnya pada saat interview pas ditanya pengalaman kerja? Bisa bekerja sama dalam tim ngga? Bagaimana cara mengatasi masalah jika sudah bekerja? Bisa publik speaking ngga? Serta pertanyaan lain yang ngga ada hubungannya di akademik. Nah cara jawabnya gimana? Sedangkan kita hanya kuliah pulang dan jarang berbaur dengan teman. Banyak mahasiswa Universitas favorit yang nganggur karena mereka ngga bisa sosialisasi. Gua ngga yakin materi yang kalian pelajari selama 4 tahun perkuliahan ngga akan benar-benar kalian ingat nantinya. Artinya, organisasi itu penting, memang sih agak mengganggu akademik tapi kan percuma nilai tinggi kalau ngga punya life skill atau soft skill.

Lewat organisasi, kita banyak mendapatkan pelajaran yang ada hubungannya dengan dunia kerja ketimbang yang dipelajari di kelas. Melalui organisasi, kita belajar jadi pemimpin, berpendapat, memecahkan masalah, bagaimana menggalang dana saat ada kegiatan, dan membangun jaringan pertemanan dengan mahasiswa dari berbagai fakultas, dll. Siapa tahu karena kita banyak teman saat kuliah, nanti cari kerjanya bakal mudah. Ada juga organisasi yang ngga terkhusus untuk mahasiswa kampus tertentu saja, tetapi dari mahasiswa seluruh Indonesia. Seperti organisasi HIMAKUAI (Himpunan Mahasiswa Akuakultur Indonesia) yang pada saat mengadakan kegitaan biasanya dihadiri anak UGM, IPB, UMI, Universitas Brawijaya, dll. Intinya, berorganisasi itu membawa banyak manfaat kedepannya.

ANANDA AISYAH ALAWIYAH [Psikologi, Universitas Negeri Makassar]

Menurut kakak kelas saya ini :

Sebenarnya lebih bagus pernyataan kedua. Karena skill berorganisasilah yang dibutuhkan di dunia kerja. Bukan hanya mengandalkan IPK tinggi. Dan dengan berorganisasi, kita jadi punya banyak teman, banyak pengetahuan yang tidak didapatkan di perkuliahan.

SHARON SEMBUNG [Ilmu Administrasi Bisnis, Universitas Sam Ratulangi Manado]

Menurut kakak cantik ini :

Kalau disuruh milih mana yang harus difokuskan, mending jangan pilih dua-duanya. Karena kalau kita Cuma memilih ngejar IPK tinggi pas lulusnya kita tidak punya pengalaman selama kuliah. Nah, kalau kita hanya fokus di organisasi, kuliah kita bakalan terhambat nantinya. Itu pengalaman saya pas kuliah sambil ikut organisasi sih. Berorganisasi itu bermanfaat karena kadang banyak hal yang akan kita dapat di dalamnya. Selain itu kita menjadi lebih cakap, bagaimana kita harus bekerja sama untuk mencapai tujuan organisasi. Nah saat lulus nanti, kita ngga bakal kampungan karena sudah punya bekal dari organisasi.


ANDI RAHMAH WIDHAYANTI [Analisi Kimia, Akademi Kimia Analisis Bogor]

Lagi-lagi kakak kelas saya, hehe. Menurut dia :

Semuanya bagus, malah keduanya itu jadi tujuan dan keharusan untuk semua mahasiswa yang memang niat kuliah. Tapi perlu diingat juga, IPK itu bisa dibilang nilai total kita selama jadi mahasiswa. Beda lagi kalau kita mau ikut organisasi atau UKM di kampus. Jujur, kehidupan kampus ngga segampang saat kita di SMA. Kehidupan mahasiswa itu titik perubahan kita, entah kita nantinya bakal jadi orang apa ngga. Itu tergantung usaha dan kerja keras kita. Bisa dibilang kalau ikut UKM atau organisasi menunjang kita untuk dapat pengalaman yang tidak dikasih di kelas. Ikut UKM itu semacam kita belajar menjadi manusia dan memanusiakan orang lain atau hal-hal lain yang berkaitan dengan bagaimana kita bersikap di masyarakat. Jadi konklusinya, IPK itu penting, malah dipertimbangkan saat melamar kerja. IPK itu bisa didapat dengan kerja keras. Sedangkan Organsasi atau UKM itu sebagai penunjang.

BIMA PUTU WIJAYA [D3 Kebapeanan dan Cukai, PKN STAN]

Menurut kakak yang memenangkan desain bus kampus PKN STAN ini :

Kuliah sambil organisasi itu penting, apalagi buat cowok menurutku. Pas kerja itu, hampir 80% kita pakai soft skill. Ilmu yang didapat di kelas Cuma sedikit. Nah, cara melatih soft skill ini adalah dengan berorganisasi.

FAJAR WAHYUDI PASSAGI [Fakultas Hukum, Universitas Pancasila Jakarta]
Nah, yang ini kakak saya. Saudara dekat, sepupu. Dia pilih kedua-duanya. Menurut dia :

Biar seimbang. Karena kalau berorganisasi, disitu kamu bisa membentuk link atau pertemanan dengan orang lain. Agar nantinya saat mencari kerja banyak channel yang bisa kita dapatkan.

ZULFIKAR RAHMAN [D3 Kebapeanan dan Cukai, PKN STAN]

Pendapat dari kakak angkatan 2015 STAN ini agak berbeda dari yang lain.

Bukan berorganisasi sih menurutku, tapi bersosialisasi. Karena tidak semua UKM di pekuliahan berbentuk organisasi. Semisal kamu ikut BEM, itu namanya organisasi. Kalo semisal kamu ikut UKM lain misalnya perkumpulan seni atau olahraga itu kan bukan organisasi. Tapi kedua sama, yaitu untuk mengembangkan jiwa sosial kita agar banyak mengenal satu sama lain. Jadi intinya, yang benar itu banyak-banyakin sosialisasi tapi tidak harus berorganisasi. 

----------------------------------

Sebenarya masih banyak kakak-kakak yang belum manjawab pertanyaan gue ini. Semisal mahasiswa dari PKN STAN dan UGM yang lagi sibuk ujian. Jadi, kedepannya setelah mereka jawab, tulisan ini akan diupdate.

Jadi setelah menguras waktu membaca pendapat-pendapat dari kakak-kakak diatas, sudah sejauh mana merubah mindset kalian? Apakah masih kekeh dengan pilihan satu atau malah jadi ngga milih sama sekali? Hehe.

Pendapat mereka secara garis besar hampir sama ya. Walaupun satu dua orang punya pendapat yang berbeda. Tapi intinya mengarah ke hal positif saat memilih salah satu pernyataan tadi. Memang, saat kita memilih suatu keputusan harus dipertimbangkan dulu efek kedepannya kayak gimana, diikuti perencanaan yang matang lah istilahnya.

Tergantung keputusan kalian sendiri sih mau fokusin kehidupan kuliah kalian ke mana. Inilah bedanya dunia kuliah dan dunia SMA. Waktu SMA mungkin kita terbiasa 'ngikutin arus' aja sama temen-temen sekelas. Karena emang alur kegiatan jaman SMA cenderung lebih seragam dan terstandarisasi dari pihak sekolah. Nah, masalahnya kita ga bisa pakai mindset itu waktu kuliah. Kalo kita 'ngikut arus' aja, nerima setiap tawaran kepanitiaan acara bisa-bisa tanpa sadar kita terikat sama tanggung jawab dan kesibukan diluar batas kemampuan dan nguras waktu kita habis-habisan.

Jadi sekali lagi, lebih penting yang mana itu justru harus kita sendiri yang putuskan. Kalian mau punya prestasi akademis yang bagus dengan pengalaman organisasi yang cukup, atau kalian mau punya pengalaman organisasi segudang dengan nilai akademis yang standard? Ngga ada yang lebih jelek atau bagus karena semua itu tergantung tujuan hidup kalian ke depannya mau kek gimana.

Kalo dari gue sih, mending pilih dua-duanya. Bener juga kata kak Zulfikar Rahman dari PKN STAN, banyak-banyakin sosialisasi tapi ngga harus berorganisasi. Hehe.

See u next post. Wassalamualaikum.

4 comments:

  1. Simple is buautiful..
    Munkin inimi kalimat yang paling ngena buat bligmu puji,
    Tapi saya dari tadi scrol" tidak nemu jumlah visitornya 😂😂😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. kamu pakai apa bacanya? kalo scrollnya pake hp ya emang ngga muncul jumlah visitornya. lebih baik buka lewat dekstop, lebih optimal tampilannya, jumlah visitornya bisa dilihat di bagian paling bawah sebelah kiri. btw jumlah visitor gw saat ini (saat nulis ini) 172429 dan akan berubah beberapa detik kemudian. hehe

      Delete
  2. Intinya jadi mahasiswa yang aktivis dan akdemis lah..

    ReplyDelete

Makasih udah buang-buang waktu baca tulisan absurd di blog ini. Jangan lupa tinggalkan jejak ya:)